Harapan dan Keinginan

alquran

Tujuan hidup di dunia ini adalah untuk meraih cinta Allah dan berjumpa dengan Allah SWT di akhirat. Pedoman hidup adalah Al Qur’an & Sunnah Nabi Muhammad SAW.

  

Cita-cita hidup yaitu menjadi orang yang bermanfat bagi orang lain dengan jalan KAYA. Jika kaya harta, memberikan manfaat bagi orang lain dengan harta. Jika kaya ilmu, memberikan manfaat bagi orang lain dengan ilmu. Jika kaya tenaga, berikan tenaga untuk membantu orang lain.

  

Cita-cita kedua yaitu menginginkan anak keturunan yang lebih baik dari orang tuanya. Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seseorang meninggal dunia, maka amalnya akan terputus. Kecuali 3 perkara, yaitu shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendoakannya”.

Predikat sholeh dan sholehah adalah sebuah hasil akhir yang husnul khotimah. Hasil akhir ini harus dimulai dengan proses taubat, membersihkan diri dari dosa-dosa di masa lalu. Setiap manusia tidak ada yang bersih dari dosa.

Orang sering mengucapkan “selamat menempuh hidup baru” pada para pengantin yang baru menikah. Alangkah indahnya jika “hidup baru” ini mampu dijadikan sebagai momen untuk mulai bertaubat dan memperbaiki diri menuju husnul khotimah.

  

Hidup ini penuh dengan ujian dan godaan, sehingga kita membutuhkan suatu penunjuk jalan dan pedoman hidup. Setiap hari selalu kita lantunkan, “Ya Allah tunjuki kami ke jalan yang lurus”. Allah SWT menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi setiap manusia dan model ideal Al Qur’an berjalan yaitu Rasulullah SAW untuk dijadikan panutan. Dalam hidup berumah tangga ini harus bisa menjadikan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah sebagai pedoman hidup dan undang-undang.

  

Selain kriteria agama, kecerdasan seorang pasangan memang tetep menjadi pesona. Bagaimana seorang Imam Syafi’i mampu hafal Al Qur’an 30 juz pada usia di bawah 10 tahun dan menjadi ulama besar, karena ibunya seorang yang sangat cerdas dan sudah terlebih dahulu hafal. Kalo memperhatikan para ulama dan ahli ilmu, rata-rata mereka dilahirkan dari seorang ibu yang cerdas. Oleh karena itu, dibutuhkan seorang istri cerdas,  yang cinta ilmu dan mampu mendidik dan membina anak dengan kasih-sayang supaya sholeh dan sholehah.

  

Cita-cita ingin berdakwah harus dimulai dari keluarga sendiri. Berdakwah memang tidak harus dengan berbicara menggunakan dalil-dalil, bisa dengan tingkah laku kita. Keinginan hati ini untuk tetap berkontribusi dalam dakwah, terlibat dalam kegiatan kebaikan. Memang banyak kegiatan keagamaan yang telah kami ikuti, tetapi tidak pernah menjadi pemimpinnya atau pionir utama, hanya sebagai pendukung saja. Akankah nanti pasangan memberikan dukungan untuk terlibat dalam kegiatan dakwah.

 

Yah, semua di atas kebanyakan masih berupa cita-cita atau angan-angan, karena karakter lemah dalam diri ini. Perlu kesungguhan dan komitmen untuk mewujudkannya. Untuk mewujudkan cita-cita husnul khotimah (sholeh/sholehah) ini, dibutuhkan seorang partner hidup yang bisa saling berbagi kelebihan, saling menguatkan kelemahan masing-masing.

 

Ya Allah, ampuni hamba-hamba-Mu ini jika terlalu panjang angan-angan.

Ya Allah, jangan Engkau jadikan musibah menimpa kami atas agama dan iman kami.

Ya Allah, jangan Engkau jadikan dunia sebagai puncak cita-cita dan ilmu kami.

Ya Allah, anugrahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati dan jadikanlah kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertaqwa. Amiin.

Rabbanaa hablanaa minazwaajinaa wadzurriyyaatinaa qurrota a’yun waj’alnaa lilmuttaqiina imaamaa

Silakan beri komentar

amin
Posted by cah bayat on August 04, 2008
amin
Posted by cah bayat on August 04, 2008
Add A New Comment